Bayi Baru Lahir

 

  1. 1.      DEFINISI

Bayi baru lahir adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri ke ekstra uteri.Bayi Baru Lahir adalah bayi yang mengalami proses kelahiran dengan umur kehamilan 37-42 minggu ,BB 2500-4000 gram dan dapat beradaptasi dengan lingkungan.

  1. 2.      INFEKSI PADA BAYI BARU LAHIR

Infeksi pada neonatus merupakan kejadian yang dapat menyebabkan morbiditas perinatal sebesar 10-15%. Infeksi  pada neonatus lebih sering ditemukan pada bayi berat lahir rendah , pada bayi yang dilahirkan di rumah sakit daripada yang lahir di luar rumah sakit. Bayi baru lahir biasanya mendapat imunitas transplasenter terhadap kuman-kuman yang berasal dari ibunya . Bayi yang lahir di rumah sakit didekatkan  pada kuman-kuman yang bukan saja berasal dari ibunya sendiri, melainkan juga berasal dari ibu-ibu lain yang juga melahirkan ditempat yang sama. Terhadap kuman-kuman yang terakhir ini bayi tidak mempunyai imunitas.

 

  1. 3.      PATOGENESIS

Infeksi pada neonatus dapat melalui berbagai cara. Blanc, (1961) membaginya dalam tiga golongan yaitu infeksi antenatal, infeksi intranatal, infeksi postnatal.

3.1  Infeksi Antenatal

Kuman mencapai janin melalui peredaran darah ibu ke plasenta.Di sini kuman itu melewati batas plasenta dan mengadakan intervillositis. Selanjutnya, infeksi melalui vena umbilikalis masuk ke janin.Kuman yang dapat memasuki janin melalui jalan ini ialah :

a)       Virus              : Rubella, Poliomielitis, Koksakie, Variola,   Vaksinea, Sitomegalovirus.

b)      Spirokaeta       : Sifilis

c)      Bakteria           : jarang sekali dapat melewati plasenta, kecuali Escherichia coli dan Listeria monocytogenes

Tuberkolosis congenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta : sarang pada plasenta pecah ke likuor amnii dan janin mendapat tuberculosis melalui cairan itu.

3.2  Infeksi Intranatal

Infeksi melalui cara ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain. Kuman dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Ketuban pecah lama mempunyai peranan penting dalam timbulnya plasentitis dan amnionitis. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh, misalnya pada partus lama dan sering kali dilakukan pemeriksaan vaginal. Janin terkena infeksi karena menginhalasi likuor yang septic, sehingga terjadi pneumonia yang congenital atau karena kuman- kuman memasuki peredaran darahnya dan menyebabkan septicemia. Infeksi intranatal dapat juga terjadi  dengan jalan kontak langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina misalnya blenorea dan oral trush. Infeksi intra natal dapat terjadi pada air ketuban yang keruh dan resusitasi yang berat.

 

3.3  Infeksi Postnatal

Infeksi ini terjadi sesudah bayi lahir lengkap dan biasanya merupakan infeksi yang diperoleh (acquired infection).Sebagian besar infeksi yang menyebabkan kematian sesudah bayi baru lahir  sebagai akibat penggunaan alat, atau perawatan yang tidak steril atau karena cross-infection. Infeksi postnatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting sekali karena mortalitas infeksi postnatal sangat tinggi.Seringkali bayi yang lahir dirumah sakit terkena infeksi dengan kuman- kuman yang sudah tahan terhadap banyak jenis antibiotika, sehingga menyulitkan pengobatannya.

 

  1. 4.      DIAGNOSIS

Diagnosis infeksi pada neonatus sangat penting untuk kepentingan bayi itu sendiri, tetapi lebih penting lagi untuk kamar bersalinnya dan untuk tempat perawatannya. Diagnosis infeksi ini memang tidak mudah karena tanda khas seperti yang terdapat pada bayi yang lebih tua jarang ditemukan. Diagnosis biasanya dibuat dengan pengamatan yang cermat, anamnesis kehamilan dan partus yang teliti dan pemeriksaaan fisik serta laboratorium. Seringkali diagnosis didahului oleh persangkaan infeksi pada neonatus dan dapat ditetapkan dengan pemeriksaan selanjutnya.

Infeksi pada bayi cepat sekali meluas menjadi infeksi umum, sehingga gejala-gejala infeksi local tidak menonjol lagi. Walaupun demikian, diagnosis dini dapat dibuat jika cukup waspada bahwa kelainan tingkah laku bayi dapat merupakan tanda-tanda infeksi umum. Kalau bayi  terutama pada bayi BBLR, selama 72 jam pertama tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit tertentu tiba-tiba tingkah lakunya berubah maka kemungkinan terkena infeksi. Tanda infeksi pada bayi biasanya tidak khas seperti yang terdapat pada bayi yang lebih tua atau pada orang dewasa dapat berupa malas minum, gelisah, frekuensi pernafasan meningkat,berat badan tiba- tiba turun, pergerakan kurang dan diarea. Selain itu dapat terjadi oedema, purpura, ikterus, hepatosplenomegali dan kejang. Suhu dapat meningkat, normal dan dapat kurang dari normal. Pada Bayi BBLR Seringkali terjadi hipotermi dan sklerema. Umumnya bila bayi “not doing well”  kemungkinan besar mengalami infeksi.

 

  1. 5.      PENCEGAHAN INFEKSI PADA BAYI

Infeksi pada bayi dapat merupakan penyakit yang berat dan sangat sulit diobati. Infeksi itu tidak saja berbahaya untuk bayi yang terkena infeksi tetapi juga untuk bayi-bayi yang dirawat bersama karena kemungkinan “cross-infection”. Oleh sebab itu, lebih penting mencegah terjadinya infeksi daripada mengobati bayi yang mendapat infeksi.

Cara pencegahan infeksi pada neonatus dapat dibagi menjadi cara umum dan cara khusus.

  1. 1.      CARA UMUM

1)                 Pencegahan infeksi bayi sudah harus dimulai dalam masa antenatal. Infeksi ibu   harus diobati dengan baik, misalnya infeksi umum, lekorea dan lain-lain. Dalam kamar bersalin harus ada pemisahan yang sempurna antara bagian yang septic dan aseptic. Pemisahan ini mencakup ruangan, tenaga perawatan, alat-alat kedokteran dan keperawatan. Ibu yang akan melahirkan sebaiknya dimandikan dahulu dan memakai baju khusus sebelum masuk kamar bersalin. Pada kelahiran bayi harus diberi pertolongan secara aseptic. Suasana kamar bersalin harus sama dengan kamar operasi. Alat yang digunakan untuk resusitasi harus steril

2)         Dengan bangsal bayi juga harus ada pemisahan antara bayi baru lahir dengan partus septic dan partus aseptic. Pemisahan ini mencakup tenaga, fasilitas perawatan dan alat-alat. Selain itu juga harus terdapat kamar isolasi untuk bayi yang perlu diasingkan. Perawat harus mendapat pendidikan khusus dan mutu perawatannya harus lebih tinggi daripada yang merawat bayi yang lebih tua. Apalagi bangsal perawatan bayi itu merupakan suatu “special care nursery”. Sebelum dan sesudah memegang bayi perawat harus mencuci tangan. Mencuci tangan sebaiknya menggunakan sabun anti septic atau sabun biasa selama 1 menit. Dalam ruangan petugas sebaiknya menggunakan jubah steril, sandal khusus, dalam ruangan tidak boleh banyak bicara. Kalau perawat atau dokter menderita penyakit saluran pernafasan bagian atas tidak boleh masuk ruangan.

Dapur susu harus bersih dan mencampur susu secara aseptic. Pengunjung yang mau melihat bayi harus memakai masker dan jubah atau sebaiknya melihat bayi dari jendela kaca. Air susu ibu yang dipompa sebelum diberikan kepada bayi harus dipasteurisasi. Setiap bayi sebaiknya mempunyai tempat sendiri untuk pakaian, thermometer, obat-obatan, kasa dan lain-lain. Inkubator harus selalu dibersihkan. Lantai ruangan harus tetap dibersihkan setiap harinya dan setiap minggu dibersihkan dengan antiseptic.

 

  1. 2.      CARA KHUSUS

Pemberian antiobiotika hanya dibolehkan untuk tujuan dan indikasi yang jelas. Dalam beberapa hal misalnya, ketuban pecah lama, air ketuban keruh, infeksi umum pada ibu, partus lama dengan banyak tindakan intravaginal, resusitasi yang berat dan sebagainya timbul keraguan apakah akan diberi antiobiotik secara profilaktik. Disatu pihak penggunaan antibiotic yang banyak dan tidak terarah dapat menyebabkan timbulnya strain kuman yang bertahan dan pertumbuhan fungi yang berlebihan seperti Candida albican. Sebaliknya pemberian antibiotika terlambat pada penyakit infeksi neonatus mengakibatkan kematian. Berdasarkan hal tersebut dibuat kebijaksanaan sebagai berikut :

1)      Kalau kemampuan pengamatan klinik dan monitoring laboratorium cukup baik sebaiknya tidak pelu diberikan antibiotic sebagai pencegahan. Antibiotik baru diberikan kalau terdapat tanda-tanda infeksi.

2)      Kalau kemampuan tersebut tidak ada, dapat dipertanggungjawabkan untuk memberi antibiotika sebagai pencegahan berupa Ampisilin 100 mg/kg berat badan dan Kanamisin 15 mg/kg berat badan selama 3 hari , sebagai pengganti Kanamisin dapat dipakai Gentamisin.

 

3)      Perawatan Gabung (Rooming In)

Perawatan gabung adalah suatu cara yang tepat untuk mencegah infeksi  dimana bayi dan ibu dirawat bersama dalam suatu ruangan yang tidak terpisah. Manfaat perawatan gabung ialah : (1) Infeksi silang dibatasi , (2) promosi penggunaan ASI, (3) ibu dapat segera dilatih keterampilannya untuk mengurus bayi, (4) hubungan psikologis ibu dan bayi lebih baik dan (5) membantu tenaga perawatan. Pada rooming in infeksi silang dapat dibatasi lagi dengan membatasi pengunjung yaitu mereka yang menderita demam, batuk pilek, dan diare tidak boleh masuk kamar ibu dan bayi. Dan pengunjung tidak boleh memegang bayi. Walaupun rawat gabung ini banyak kebaikannya, tetapi tidak semua bayi  bisa dirawat gabung, seperti :

(1)   Bayi dengan asfiksia neonatal

(2)   Bayi dengan kesulitan pernapasan

(3)   Bayi dengan cacat bawaan

(4)   Bayi yang lahir dengan partus tindakan

(5)   Bayi yang menderita diabetes

(6)   Bayi yang berat lahirnya kurang dari 2500 gram

(7)   Bayi yang masa kehamilannya kurang dari 37 minggu

(8)   Bayi yang sakit

(9)   Ibu yang sakit

Dalam perawatan gabung ini sang ibu harus diberi instruksi pengamatan gejala-gejala yang berbahaya yaitu :

(1)   Kesulitan pernapasan, frekuensi pernapasan lebih dari 60 menit

(2)   Perdarahan

(3)   Muntah

(4)   Sianosis

(5)   Kejang atau tremor

(6)   Ikterus

(7)   Perut kembung

(8)   Diare

(9)   Tidak mau menetek (minum)

(10)  Tangisan bayi yang lemah atau terlalu keras

Bila terdapat gejala ini harus segera dilaporkan pada perawat atau dokter.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :  Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s